JAKARTA, CerminDemokrasi.com – Triwiyono Susilo, kader PDI Perjuangan, mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul berulangnya laporan kasus keracunan yang melibatkan siswa. Ia menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan dan memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak.

Dalam pernyataannya, Triwiyono menyebut sekitar 33.000 siswa mengalami keracunan sebelum putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Ia kemudian menyoroti angka 529 anak yang disebut kembali menjadi korban setelah putusan tersebut.

Menurut Triwiyono, rentetan kasus itu seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperbaiki pengawasan. Namun, ia menilai upaya perbaikan belum terlihat memadai sehingga persoalan serupa terus berulang.

Triwiyono juga menyoroti keterlibatan pengusaha dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menilai orientasi mencari keuntungan berpotensi memengaruhi kualitas makanan jika pengelolaan anggaran tidak disertai transparansi dan pengawasan yang ketat.

Ia menduga tekanan untuk menekan biaya dan memperoleh keuntungan dapat mendorong penyedia mengurangi kualitas bahan makanan. Meski demikian, dugaan tersebut merupakan kritik Triwiyono dan tidak membuktikan bahwa motif keuntungan menjadi penyebab kasus keracunan.

Triwiyono turut mempertanyakan tujuan MBG sebagai program yang diharapkan mendukung kecerdasan anak dan meningkatkan mutu pendidikan. Menurutnya, tujuan tersebut sulit tercapai apabila keamanan dan kualitas makanan belum terjamin.

Ia pun mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan program, terutama dalam aspek pengawasan, transparansi anggaran, dan kualitas makanan. Baginya, pemenuhan gizi anak harus menjadi prioritas dalam penyelenggaraan MBG.