JAKARTA, CermnDemokrasi.com – Tren downgrading lifestyle atau menurunkan gaya hidup mulai mengubah pola belanja wisatawan di Indonesia. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai, perubahan perilaku ini membuat wisatawan semakin selektif mengeluarkan uang, mulai dari memilih transportasi hingga menentukan tempat menginap. Meski pengeluaran ditekan, minat bepergian belum surut, tercermin dari perjalanan wisatawan domestik yang masih tumbuh di atas 4 persen dan wisatawan mancanegara di atas 5 persen.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa mengatakan, masyarakat kini cenderung mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak esensial dan memprioritaskan kebutuhan utama. Wisata tetap dilakukan, tetapi dengan anggaran yang lebih ketat dan pilihan yang dinilai lebih hemat.
Perubahan tersebut terlihat dari pilihan transportasi selama perjalanan. Wisatawan yang sebelumnya menggunakan pesawat mulai mempertimbangkan kendaraan pribadi atau kereta api demi menekan biaya. Ni Luh mengutip data PT Kereta Api Indonesia yang menunjukkan peningkatan jumlah pengguna kereta api. Menurutnya, kemudahan akses jalan tol dan tersedianya alternatif transportasi turut memengaruhi keputusan wisatawan dalam mengatur anggaran perjalanan.
Pola serupa terjadi pada pilihan akomodasi. Wisatawan yang sebelumnya menginap di hotel berbintang tertentu mulai melirik vila yang dinilai menawarkan privasi dan lebih sesuai untuk perjalanan bersama keluarga. Ni Luh menyebut pertumbuhan vila terlihat di sejumlah destinasi, termasuk Yogyakarta. Pergeseran ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak serta-merta membatalkan perjalanan, melainkan mengubah cara membelanjakan uang untuk mendapatkan pengalaman yang dianggap sepadan dengan biaya.
Di tengah penyesuaian anggaran tersebut, sektor makanan dan minuman masih menunjukkan pertumbuhan. Ni Luh menyebut data yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan konsumsi di restoran, kafe, dan rumah makan tetap meningkat. Kondisi ini menjadi peluang bagi pelaku usaha kuliner, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk mempertahankan pasar dengan menawarkan produk dan layanan yang sesuai dengan kemampuan belanja wisatawan.
Data kinerja pariwisata juga memperlihatkan tren pertumbuhan. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, naik 10,80 persen dibandingkan 2024 dan melampaui target nasional 14 juta hingga 15 juta kunjungan. Perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Tren berlanjut hingga Agustus 2026, dengan 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara atau tumbuh 5,38 persen secara tahunan, serta 842,15 juta perjalanan wisatawan nusantara atau meningkat 4,29 persen.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana menyatakan pertumbuhan pariwisata Indonesia termasuk yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara. Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara juga naik 6,36 persen menjadi 1.313 dollar AS atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan. Namun, tren downgrading lifestyle menjadi sinyal bahwa pertumbuhan jumlah perjalanan perlu diimbangi pemahaman terhadap perubahan pola konsumsi. Dengan lebih dari 95 persen usaha pariwisata digerakkan UMKM, kemampuan pelaku usaha menawarkan layanan berkualitas dengan harga kompetitif menjadi kunci agar pergeseran belanja wisatawan tetap menggerakkan ekonomi pariwisata.
#Simak berita-berita update CerminDemokrasi.com lainnya di ponselmu, dengan cara ikuti/klik link dibawah ini 👇:
1.) Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbBQrtFBqbr2Tw270h2v
2.) Halaman Facebook: https://www.facebook.com/share/18Amh9QUv4/
3.) Channel Youtube: https://www.youtube.com/@CerminDemokrasiOfficial
4.) Channel Instagram: https://www.instagram.com/cermindemokrasiofficial?igsh=ZzF6djc2YjU0a2k2
5.) Channel Tiktok: https://www.tiktok.com/@cermindemokrasiofficial?_r=1&_t=ZS-924Eyf2x8uz






