KOTA BEKASI, CerminDemokrasi.com – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Bojong Rawalumbu menggelar kegiatan sosialisasi strategis penanganan sampah rumah tangga bertajuk “Dari Masalah Menjadi Berkah”. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian dalam mengatasi persoalan sampah yang makin mengkhawatirkan dari tingkat tapak/lingkungan.
Ketua LPM Kelurahan Bojong Rawalumbu, Darka menyampaikan bahwa kegiatan yang memasuki tahun kedua pelaksanaannya ini bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mereduksi volume sampah langsung dari hulunya, yaitu lingkungan rumah tangga.
“Hari ini kami berkolaborasi dengan BSIP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membantu pemerintah mengurangi sampah di lingkungan. Alhamdulillah, dari 42 RW yang diundang, tingkat kehadiran mencapai sekitar 70 persen, bersama para ketua bank sampah dengan total peserta sekitar 100 orang lebih,” ujarnya di Gedung Teknis Kota Bekasi usai kegiatan, Minggu (11/10/2026).
Ia mengungkapkan, persoalan utama penanganan sampah selama ini terletak pada minimnya edukasi dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Masyarakat dinilai masih kurang akrab dengan tata cara pengelolaan sampah terpadu.
Oleh karena itu, LPM Bojong Rawalumbu mengambil inisiatif untuk menjembatani kebutuhan edukasi tersebut dengan merangkul BSIP dan Bank Sampah Unit (BSU) yang ada di setiap RW.
“Ke depannya, BSIP akan turun langsung ke lapangan melalui BSU-BSU di masing-masing RW untuk memberikan edukasi mendalam kepada warga,” jelasnya.
Menurutnya, langkah progresif ini juga dipicu oleh kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumur Batu yang dinilai sudah sangat padat (krodit). Dengan estimasi produksi sampah rumah tangga mencapai 1.800 ton per hari dan hanya sekitar 1.200 hingga 1.300 ton yang sanggup terangkut, pengolahan mandiri di tingkat lingkungan dinilai menjadi solusi mutlak.
“Ke depan harapannya tidak ada lagi sampah berlebih yang dibuang ke TPA Sumur Batu karena sudah direduksi di lingkungan masing-masing. Sampah anorganik seperti plastik dan kardus didaur ulang, sedangkan sampah organik bisa diolah menjadi media maggot, kompos padat, maupun kompos cair,” ungkap Ketua LPM.
Selain menjaga kelestarian lingkungan, skema pengelolaan sampah mandiri ini diyakini mampu mengubah beban persoalan menjadi potensi ekonomi yang memberikan nilai tambah (value added) bagi kesejahteraan warga setempat.






