JAKARTA, CerminDemokrasi.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sempat menjadi sorotan tajam Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah pidato yang kembali menjadi perhatian publik, Jokowi secara terbuka mengkritik pihak-pihak yang dinilai menghambat kemandirian energi nasional.

Dalam arahannya, Jokowi mengungkapkan kekecewaan mendalam karena Indonesia masih harus mengimpor 700 hingga 800 ribu barel minyak per hari. Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

“Kita sudah tahu siapa yang senang impor dan siapa yang tidak. Jangan menghalangi orang ingin membuat batu bara menjadi gas. Gara-gara kamu senang impor, kita tidak bisa mandiri,” tegas Jokowi.

Jokowi menyoroti beberapa peluang yang selama ini terabaikan, seperti substitusi batu bara menjadi gas (DME) dan pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi avtur. Namun, proyek-proyek strategis ini dinilai jalan di tempat karena adanya resistensi dari pihak yang telah lama menikmati keuntungan dari praktik impor.

Selain itu, ia menyoroti mangkraknya pembangunan kilang minyak. Jokowi menyebut, selama 34 tahun Indonesia tidak membangun kilang baru, padahal keberadaannya krusial untuk menekan impor produk petrokimia yang mencapai Rp323 triliun per tahun.

“Dari lima kilang yang ingin kita kerjakan, satu pun tidak ada yang berjalan. Ini ada yang memang menghendaki kita untuk impor terus,” ujar Jokowi.

Pernyataan Jokowi ini menjadi pengingat akan pentingnya transformasi ekonomi di sektor energi. Fokus utamanya jelas: mengurangi defisit neraca perdagangan dengan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri dan membangun infrastruktur hilirisasi yang selama ini terhambat oleh kepentingan segelintir pihak.