KOTA SURAKARTA, CerminDemokrasi.com – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Asistensi Mengajar (AM) 1426 Pradiptakarsa, berkontribusi aktif dalam meningkatkan minat belajar peserta didik SD Kanisius Pucangsawit, khususnya pada mata Pelajaran Pendidikan Pancasila.

Memanfaatkan berbagai media pembelajaran yang kreatif dan inovatif membuat para peserta didik semakin bersemangat untuk belajar.

Kegiatan Asistensi Mengajar, MBKM oleh kelompok 1426 Pradiptakarsa yang mengusung tema “Meningkatkan Partisipasi Sosial dan Mutu Pendidikan di SD Kanisius Pucangsawit melalui Kolaborasi dan Inovasi,” menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan variatif pada matapelajaran Pendidikan Pancasila untuk peserta didik Sekolah Dasar (SD).

Peserta didik SD Kanisius Pucangsawit antusias belajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila lewat berbagai media pembelajaran yang inovatif, seperti kartu kuartet, diorama, smart box hingga kartu pop up.

Mari kita bahas satu persatu dari keempat media tersebut:

  1. Kartu Kuartet

(Foto: Penerapan Media Pembelajaran Kartu Kuartet)

Mengajarkan materi tentang keberagaman Indonesia, merupakan hal yang cukup menantang para pendidik. Hal ini dikarenakan Indonesia yang memiliki keberagaram yang sangat banyak jenisnya, seperti budaya, agama, makanan, suku adat, tarian, lagu, provinsi, senjata tradisional dan masih banyak lagi.

Maka dari itu Mahasiswa UNS peserta program MBKM Asistensi Mengajar kelompok 1426 Pradiptakarsa memanfaatkan kartu kuartet sebagai media interaktif yang berisi materi tentang keberagaman budaya Indonesia. Setiap kartu menampilkan ilustrasi dan informasi mengenai provinsi-provinsi di Indonesia, meliputi pakaian adat, rumah adat, makanan tradisional, tarian adat, dan senjata tradisional.

Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil dan diajak bermain sambil belajar, yaitu mengumpulkan tiga jenis kartu dari provinsi yang sama agar bisa menyusun satu set lengkap. Peserta didik yang berhasil mengumpulkan set terbanyak dinyatakan sebagai pemenang.

Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap keberagaman budaya Nusantara, tetapi juga melatih kerjasama dan strategi dalam kelompok.

  1. Diorama

(Foto: Penerapan Media Pembelajaran Diorama)

Metode diorama diterapkan dengan memanfaatkan media visual yang menarik. Peserta didik diminta menyusun representasi miniatur dari keberagaman budaya tiap provinsi menggunakan gambar-gambar yang telah dicetak dan ditempel pada tusuk sate.

Hasil karya siswa kemudian ditancapkan ke atas sterofoam. Kegiatan ini mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif, mengenal, serta memahami kekayaan budaya yang ada di setiap daerah secara visual.

Respon peserta didik terhadap kegiatan ini sangat positif. Mereka tampak antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir. Banyak peserta didik yang mengaku lebih mudah memahami materi Pancasila melalui cara belajar yang menyenangkan dan interaktif tersebut.

  1. Smart Box

(Foto: Penerapan Media Pembelajaran Smart Box)

Kali ini materi yang diajarkan ialah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Gotong Royong. Peserta didik dibagi menjadi dua kelompok dimana setiap kelompok mendapatkan satu smart box dan berbagai ornamen hiasan yang dapat mereka kreasikan sesuai dengan materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

Kegiatan ini tidak hanya membantu peserta didik untuk mempermudah memahami materi pembelajaran namun juga mengajarkan kepada mereka untuk berpikir kreatif, berlatih bekerjasama dalam sebuah tim, kemampuan berbicara di depan publik dan disiplin akan waktu.

  1. Kartu Pop UP

(Foto: Penerapan Media Pembelajaran Kartu Pop Up)

Media pembelajaran yang terakhir dan tidak kalah menarik yaitu Kartu Pop UP. Kartu pop-up adalah jenis kartu ucapan yang menggunakan lipatan dan potongan kertas khusus untuk menciptakan efek timbul yang menarik secara visual dan interaktif. Selain sebagai kartu ucapan, teknik pop-up juga dapat digunakan dalam media pembelajaran untuk membuat materi pelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif, terutama bagi anak-anak.

Materi yang diaplikasikan pada media ini adalah “Persatuan dan Kesatuan di Negaraku Indonesia”. Kartu pop up ini di dalamnya terdapat kartu panjang yang di lipat-lipat sehingga apabila ditutup dapat menjadi seperti amplop yang sederhana.

Di setiap lembar kartu terdapat rangkuman materi di setiap sub bab yaitu, Menjaga Persatuan di Lingkungan Sekitar, Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten/Kota, Sejarah Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Upaya Mempertahankannya.

Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok mendapatkan satu kartu, mereka diarahkan berdiskusi dan merangkum materi dari 3 sub bab tersebut menjadi satu kartu. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga dilatih untuk bekerja sama, berpikir kreatif, dan menyampaikan informasi dengan cara yang menarik. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Kegiatan mengajar dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran ini mendapatkan berbagai respon positif.

“Sangat seru, soalnya selain belajar juga bisa sambil bermain,” ujar salah satu peserta didik.

Kemudian ketua kelompok 1426 Pradiptakarsa Mahasiswa UNS peserta program MBKM Asistensi Mengajar, Aurellia Yulia Rhmawati, juga menyampaikan harapannya terhadap program ini, “Kami ingin menciptakan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan dan membekas dalam ingatan siswa,” jelasnya.

Melalui pendekatan pembelajaran yang kolaboratif dan inovatif ini, program Asistensi Mengajar MBKM di SD Kanisius Pucangsawit berhasil menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Diharapkan, model pembelajaran seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.