TASIKMALAYA, CerminDemokrasi.com – Kasus dugaan intoleransi terhadap penghayat Saung Tara Jujumantara (STJ) di Tasikmalaya menjadi sorotan publik.

Peristiwa ini bermula dari pembakaran padepokan STJ pada 1 April lalu. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait penanganan pelaku.

Dampak kejadian tersebut turut dirasakan anak-anak anggota STJ yang mengalami perundungan di sekolah dan tekanan sosial.

Sejumlah pihak menilai lambannya penanganan justru memperpanjang rasa takut serta memperburuk kondisi korban.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berkeyakinan serta jaminan rasa aman bagi seluruh warga negara.