KOTA BEKASI, CerminDemokrasi.com – Memasuki era transformasi digital yang disesuaikan dengan tagline nasional “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” tepat di momen hari santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, Pondok Pesantren (Ponpes) An Nur Bekasi Utara perkenalkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk para santri.

Menurut pengasuh Ponpes An Nur, Gus Eri Mutawali, tema tersebut juga menuntut para santri untuk tidak hanya pintar mengaji dan menghafal Al Qur’an saja, tetapi juga bisa menjadi pionir peradaban dunia, khususnya dalam penguasaan teknologi kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence).

Gus Eri menuturkan, kemarin pihaknya diundang di kegiatan launcing pelatihan AI yang diselenggarakan oleh sekretariat Kementerian Agama (Kemenag) dan Microsoft bertempat di gedung SCBD, Jakarta. Ponpes An Nur menjadi satu – satunya pesantren yang mewakili Kota Bekasi bersama 50.000 pesantren lainnya dari seluruh Indonesia.

“Artinya, di era global ini santri bahkan gurunya harus bisa menggunakan, bahkan menguasai AI yang digunakan dalam proses belajar mengajar di pesantren, contoh dalam menghapal, selama ini kan melalui tatap muka, nanti bisa dilakukan secara online,” kata Gus Eri, Rabu (22/10/2025).

Meskipun saat ini tidak semua pesantren memperbolehkan santrinya menggunakan gadget, namun hal itu masih bisa disiasati dengan cara lain.Ia juga menekankan pentingnya membangun santri sesuai peradaban, dimana para santri dituntut memiliki multi skill, multi talent yang bisa menguasai semua hal.

Ia mencontohkan, ketika nanti para santri keluar dari An Nur sebagai alumni, dirinya berharap mereka tidak hanya menjadi Kiai dengan pembekalan agama yang memiliki dasar fisik luarbiasa serta penerapan akhlak dalam kemasan ilmu agama yang baik.

Selain itu, mereka juga bisa membuka potensi lain, misal dengan bekerja di Microsoft, atau dunia kerja yang lainnya. Bahkan juga bisa menjadi pencipta sesuatu yang baru melalui teknologi AI sambil mengajarkan ilmu agama di masyarakat.

“Dimasyarakat mereka turun, misalnya menjadi pionir di masyarakat, menjadi dai, penceramah, menjadi tokoh masyarakat ditempatnya masing – masing, bisa memimpin tahlil, baca maulid, bahkan menjadi guru ngaji,”ujar Gus Eri.

Ia juga menceritakan kisah inspiratif salah satu alumni An Nur yang lulus tahun 2023. Alumni tersebut pernah menjadi tentara perdamaian PBB yang dikirim ke Libanon saat perang Israel – Libanon. Namun karena panggilan hati, ia memilih meninggalkan profesi tersebut dan kini membuka saung pengajian gratis yang membina santri dari berbagai usia, termasuk manula.

“Jadi kita itu ( ponpes An Nur), taglinenya kan “mencetak manusia intelektual berwawasan Kiai dan Kiai berwawasan intelektual,” ini momenya sekarang AI, 2025 ini fokus menciptakan santri – santri dan guru juga menguasai AI, bahkan nanti kegiatan pesantren dilakukan dengan AI,”terangnya.

Terkait tantangan transformasi digital di era Ai, Gus Eri mengakui bahwa sebelum masuk pondok para santri umumnya sudah terbiasa dengan gadget, hal ini justru akan memudahkan proses pembelajaran teknologi komputer di pesantren karena mereka sudah mengenal AI dan digitalisasi.

Menurutnya, teknologi AI tersebut tidak terlalu sulit untuk diperkenalkan kepada anak – anak di Kota Bekasi melalui penggunaan filter, jadi ketika AI diketik yang keluar adalah informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan oleh orang yang mempunyai kapasitas menginput.

“Kita berharap AI juga yang menginput adalah orang – orang yang kredibel yang memiliki ilmu pengetahuan luar biasa,” pungkasnya.

Diharapkan, pengenalan AI di pondok pesantren dapat menjadi alat yang kuat untuk modernisasi dan peningkatan kualitas pendidikan. Tujuannya bukan untuk menggantikan peran guru dan nilai-nilai tradisional, melainkan sebagai alat bantu yang melengkapi proses pembelajaran.

 

#Simak berita-berita CerminDemokrasi.com lainnya di ponselmu. Ikuti saluran WhatsApp:
https://whatsapp.com/channel/0029VbBQrtFBqbr2Tw270h2v
Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya, kemudian klik tautan/link WhatsApp Channel diatas