SURABAYA, CerminDemokrasi.com – Kepastian kandungan halal dan haram pada makanan menjadi perhatian penting bagi umat muslim, terutama saat bepergian ke negara dengan mayoritas penduduk non-muslim. Kekhawatiran terhadap bahan baku makanan yang dikonsumsi mendorong lahirnya berbagai inovasi untuk memastikan keamanan pangan.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan strip test kit portabel, pendeteksi kandungan minyak babi yang praktis dan ekonomis. Penelitian ini dipimpin oleh Dr rer nat Ruri Agung Wahyuono bersama tim dari Pusat Studi Halal ITS, termasuk Prof Agus Muhamad Hatta.
Alat inovatif tersebut memungkinkan pengecekan kandungan minyak babi tanpa harus menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) maupun teknologi elektrokimia yang umumnya memerlukan pengujian laboratorium.
Ruri Agung Wahyuono menjelaskan bahwa alat ini dirancang menyerupai strip pengecek pH air yang mudah digunakan.

Produk ini bekerja menggunakan prinsip perubahan warna berbasis material nano. Bersama timnya, Ruri Agung Wahyuono melakukan berbagai eksperimen untuk mendapatkan formula reagen yang sensitif terhadap kandungan minyak babi pada makanan.
“Jadi akan terjadi perubahan warna dari reagen akibat bereaksi secara kimia dengan kandungan minyak yang ditarget,” papar Ruri Agung Wahyuono.
Teknologi yang dikembangkan memanfaatkan metode deteksi berbasis optis atau sinyal optis perubahan warna. Dengan metode tersebut, pengguna dapat mengetahui ada atau tidaknya kandungan minyak babi secara praktis tanpa prosedur pengujian yang rumit.
Tidak hanya fokus pada deteksi kandungan minyak babi, Ruri Agung Wahyuono dan tim juga berencana mengembangkan alat serupa untuk mendeteksi berbagai bahan pemicu alergi pada makanan.
“Tidak hanya terbatas halal dan haram, bahan pemicu alergi lainnya juga akan kami kembangkan dengan metode kolorimetri yang sama, hanya saja formulasi reagen dan katalisnya berbeda,” ungkap dosen Departemen Teknik Fisika ITS tersebut.
Kemudahan penggunaan alat ini diharapkan dapat membantu muslim traveler maupun masyarakat yang memiliki alergi makanan agar lebih aman saat mengonsumsi kuliner di berbagai tempat, termasuk produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ke depan, tim peneliti ITS juga berkomitmen memproduksi material hingga alat deteksi ini secara mandiri guna mendukung ekosistem entrepreneurial university dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. Saat dipasarkan nanti, strip pendeteksi kandungan minyak babi ini diperkirakan dijual sekitar Rp10 ribu per strip untuk sekali penggunaan.
“Harga jual akan lebih rendah lagi jika alat ini berhasil diproduksi dalam skala yang lebih besar,” ujarnya.
Inovasi tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
#Simak berita-berita update CerminDemokrasi.com lainnya di ponselmu, dengan cara ikuti/klik link dibawah ini 👇:
1.) Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbBQrtFBqbr2Tw270h2v
2.) Halaman Facebook: https://www.facebook.com/share/18Amh9QUv4/
3.) Channel Youtube: https://www.youtube.com/@CerminDemokrasiOfficial
4.) Channel Instagram: https://www.instagram.com/cermindemokrasiofficial?igsh=ZzF6djc2YjU0a2k2
5.) Channel Tiktok: https://www.tiktok.com/@cermindemokrasiofficial?_r=1&_t=ZS-924Eyf2x8uz






