KOTA BEKASI, CerminDemokrasi.com – Anggota DPRD Kota Bekasi, Oloan Nababan, menilai pengangkutan sampah di tingkat pemukiman warga perlu segera dimaksimalkan guna mencegah penumpukan yang berpotensi mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Penyelenggaraan Pengawasan Pemerintah Daerah (P2PD) yang digelar di Kecamatan Mustikajaya, Rabu (28/10/2026).
Dalam kegiatan pengawasan tersebut, keluhan langsung disampaikan oleh warga setempat yang merasa pelayanan pengangkutan sampah saat ini masih jauh dari kata ideal.
Robi, salah seorang warga Mustikajaya, mengungkapkan bahwa jadwal pengangkutan sampah di wilayahnya terbilang sangat lama.
“Pengangkutan sampah di wilayah kami dua minggu sekali, padahal sampahnya sudah menumpuk,” ujar Robi saat menyampaikan aspirasinya.
Robi berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dapat segera menambah armada truk sampah agar masalah penumpukan yang terus berulang ini bisa segera teratasi.
Menanggapi keluhan tersebut, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bekasi, Oloan Nababan, berjanji akan menyuarakan masalah ini secara langsung kepada dinas terkait.
“Iya, itu akan nanti jadi masukan. Nanti kita teruskan ke Dinas Lingkungan Hidup supaya keluhan warga bisa diperbaiki, terutama terkait rutinitas pengangkutannya,”ujar Oloan.
Terkait keterbatasan jumlah armada yang dinilai belum mencukupi kebutuhan masyarakat, Oloan mengakui bahwa penambahan unit operasional memerlukan proses penganggaran formal di DPRD.
Meski demikian, pihaknya mendesak Pemkot Bekasi untuk memaksimalkan seluruh potensi armada yang ada saat ini terlebih dahulu.
“Kami ingin paling tidak tidak sampai terjadi tumpukan berlebihan karena kurang pengangkutan. Kita akan maksimalkan upaya memberikan saran kepada pemerintah. Kalau memang harus ditambah armada, ya itu tentu perlu penganggaran,” jelasnya.
Lebih lanjut, Oloan menegaskan bahwa persoalan sampah di Kota Bekasi kini sudah masuk dalam kategori masalah serius yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Menurutnya, terdapat tiga faktor krusial yang menyebabkan masalah sampah terus membayang-bayangi Kota Bekasi. Diantaranya, volume sampah yang menumpuk dan beban pembuangan akhir yang kian tinggi.
Kemudian, keterbatasan armada pengangkut karena jumlah armada yang ada belum ideal sebanding dengan luas wilayah dan populasi. Juga, tingkat disiplin warga dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangga yang masih belum maksimal.
Selain itu, Oloan juga menyoroti ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan perkampungan, di mana penampungan sampah saat ini masih mengandalkan spot-spot kecil sebelum diangkut.
Untuk menyelesaikan persoalan ini secara berkesinambungan, Oloan mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk berkolaborasi. Pengasahan program seperti keberadaan Bank Sampah di tingkat RT,RW diharapkan dapat mengurangi beban pembuangan langsung dari rumah tangga.
“Disiplin warga belum maksimal sehingga terjadilah problem sampah. Maka, dituntut semua stakeholder termasuk masyarakat untuk sama-sama berpartisipasi dalam tata kelola sampah. Apa yang ada saat ini harus kita maksimalkan bersama,” pungkasnya.






