KOTA BEKASI, CerminDemokrasi.com – Sejumlah kalangan menyoroti kehadiran Jam’iyyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah Alawiyah (JATMA) yang memicu kontroversi di tubuh Nahdlatul Ulama (NU).

Mereka menilai JATMA menyerupai Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), tetapi tidak memiliki kaitan dengan sejarah pendirian maupun perjuangan tarekat NU.

Para pengkritik menyebut catatan sejarah JATMAN tidak pernah mencatat peran atau keterlibatan sekte Ba ‘Alawi. Namun, menurut mereka, JATMA justru hadir dengan nama mirip yang berpotensi membingungkan umat.

“Kalau bukan tandingan, kenapa harus memakai nama dan singkatan yang mirip? Kalau bukan saingan, kenapa harus menyamarkan?” ujar salah satu tokoh penolak JATMA.

Kelompok penolak juga menilai JATMA sebagai organisasi tandingan. Mereka menuduh JATMA lahir dari ambisi sekelompok orang yang ingin cepat eksis dalam dunia tarekat tanpa melalui proses perjuangan.

Langkah itu mereka anggap sebagai “kudeta kultural” atas ruang spiritual yang sudah lama dibangun para kiai NU.

Mereka menegaskan, jika ingin membentuk jamaah atau tarekat baru, sebaiknya kelompok tersebut memakai nama sendiri, bukan mencatut istilah yang sudah melekat dalam sejarah NU.