JAKARTA, CerminDemokrasi.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut pesantren sebagai sekolah yang paling aman bagi pembentukan karakter dan pendidikan. Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Kabupaten Kutai Barat pada 4 Juli.

Dalam pidatonya, Nasaruddin mengatakan sistem pendidikan berbasis asrama membuat proses pembelajaran berlangsung lebih konsisten. Menurutnya, santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga membangun akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan kemampuan hidup bermasyarakat.

Nasaruddin juga menyampaikan bahwa sistem pesantren menjadi salah satu model pendidikan yang berorientasi ke depan. Ia menilai lingkungan pesantren memungkinkan peserta didik menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik dari sebagian warganet. Mereka menilai masih terdapat berbagai kasus kekerasan, perundungan, hingga dugaan kekerasan seksual yang terjadi di sejumlah pesantren dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, mereka berpendapat bahwa keamanan di lingkungan pesantren masih memerlukan perhatian dan pengawasan yang lebih kuat.

Di sisi lain, kritik tersebut tidak ditujukan pada keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan. Sejumlah tanggapan justru menekankan pentingnya memperkuat sistem perlindungan santri, meningkatkan pengawasan, serta menindak tegas setiap pelaku kekerasan agar lingkungan pesantren benar-benar menjadi tempat belajar yang aman.