KOTA BEKASI,CerminDemokrasi.com – Semenjak beberapa waktu lalu, aliran sungai Kali Bekasi yang menjadi sumber bahan baku utama produksi air bersih Perumda Tirta Patriot, berwarna hitam pekat dan berbau menyengat karena tercemar limbah. Akibatnya, kualitas produksi air yang dihasilkan perusahaan plat merah milik pemerintah kota (Pemkot) Bekasi tersebut menurun karena tingginya kandungan bakteri.

Manajer operasional Perumda Tirta Patriot, Ahmad Giri Widodo menjelaskan, bahwa pencemaran aliran Kali Bekasi berasal dari wilayah hulu sungai di Kabupaten Bogor, tepatnya pada pertemuan di perbatasan Kali Cikeas dan Kali Cileungsi. Hal ini di perparah dengan kondisi musim kemarau serta suhu udara tinggi sehingga tidak ada pengenceran dari endapan sungai.

“Kalau musim hujan ada pengenceran dari air hujan, tapi saat ini dengan tidak ada pengenceran beban pencemaran bertambah tinggi,”kata Giri Widodo saat ditemui, Selasa (04/8/2026).

Kemudian, dari hasil pemantauan bersama Dinas Lingkungan Hidup pada minggu sebelumnya, kondisi air baku sudah menunjukkan kategori kelas 4, sementara standar air baku yang layak minum harus berada di kategori kelas 1.

“Jadi untuk kita olah dari kelas 4 menjadi air minum cukup berat, tapi kita berusaha. Kita menambah beberapa aerator ditambah bahan kimia. Kita lakukan Jar test setiap hari, pemantauan kualitas supaya bisa memenuhi kebutuhan warga,”terangnya,

Dengan kondisi ini, Giri Widodo mengimbau kepada masyarakat pelanggan Perumda Tirta Patriot bahwa penggunaan layanan air saat ini hanya diperuntukkan buat mandi dan tidak disarankan dikonsumsi sebagai air minum.

Ia mengungkapkan, selama ini perusahaan banyak menerima keluhan dari pelanggan yang mengalami kondisi gatal – gatal. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh kandungan bakteri dan amonia yang cukup tinggi melebihi batas persyaratan dalam bahan baku air bersih.

Selain itu, penggunaan zat kimia Klorometana yang terlalu besar pada proses pengurangan bakteri dalam air baku dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak susulan pada kesehatan dalam jangka panjang.

“Amonia itu ditambah Klor (Klorometana) yang terlalu besar juga ada dampak susulan, mengakibatkan penyakit dan bagi kesehatan kurang bagus. Dampaknya panjang, tidak harus sekarang, tapi nanti. Makanya saya tidak anjurkan itu buat air minum,”ujarnya.

Akibat dampak bahan baku produksi yang tercemar, Giri menuturkan, saat ini distribusi air yang diterima pelanggan cenderung berwarna hijau, namun tidak keruh. Berdasarkan hasil test kekeruhan air berada di ambang batas 50 NTU (Nephelometric Turbidity Unit).

“Tapi warnanya itu sampai 500, apalagi dengan kondisi (warna air baku) hitam seperti ini, itu bisa sampai 700. Belum bakterinya, mungkin lebih dari 70 ribu lagi,”terang Giri.

Lanjutnya, meski secara kualitas produksi masih belum ideal, namun distribusi air kepada pelanggan tetap dilakukan sebab banyak warga yang hingga kini masih bergantung pada layanan Perumda Tirta Patriot, karena belum memiliki sumber air yang menjadi alternatif lain.

Sebagai langkah antisipasi, Giri menegaskan, Perumda Tirta Patriot akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan perbaikan kualitas layanan. Salah satunya melalui kerjasama dengan pihak pengelola air limbah yang menggunakan teknologi Biofilm untuk menghilangkan bau dan bakteri.

“Semaksimal mungkin PDAM akan melakukan upaya perbaikan kualitas, kami mohon maaf kepada seluruh pelanggan karena kondisi air baku seperti ini, jadi kualitas pelayanan tidak maksimal,”pungkasnya.