SALATIGA, CermnDemokrasi.com – Predikat sebagai kota toleran tidak menjamin kerukunan masyarakat akan bertahan selamanya. Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan mengingatkan, toleransi harus terus dirawat melalui tindakan nyata, bukan sekadar dibanggakan sebagai warisan budaya. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dituntut aktif menjaga keberagaman agar tetap menjadi kekuatan sosial, bukan berubah menjadi sumber perpecahan.
Pesan tersebut disampaikan Robby dalam Talkshow Festival Toleransi di Alun-Alun Pancasila. Ia menegaskan, toleransi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Salatiga tidak boleh dijalankan secara pasif. Tanpa komitmen dan keterlibatan bersama, nilai kerukunan yang diwariskan antargenerasi berisiko melemah di tengah perubahan sosial.
Robby menilai, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir dengan empati, melindungi seluruh kelompok masyarakat, serta membuka ruang kolaborasi. Pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media dinilai penting untuk memastikan toleransi terus tumbuh. Menurutnya, pekerjaan menjaga kerukunan bukan hanya mempertahankan capaian saat ini, tetapi memastikan nilai tersebut tetap hidup bagi generasi mendatang.
Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan menilai Salatiga telah menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi. Masyarakat dinilai tidak hanya menerima dan mengakui keberagaman, tetapi juga mampu merangkul perbedaan. Meski demikian, capaian tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan agar tidak berhenti sebagai identitas atau predikat, melainkan terus tercermin dalam kehidupan sosial dan kebijakan pemerintah.
Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishaq Palit menegaskan, toleransi tidak bisa diukur hanya dari keberadaan peraturan maupun besarnya anggaran pemerintah. Ukuran sesungguhnya terletak pada pengalaman masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa diskriminasi. Kerukunan harus terasa dalam interaksi sosial, penghormatan terhadap perbedaan, serta jaminan bahwa setiap warga memiliki ruang dan hak yang sama.
Dari sisi pendidikan, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW, Sri Suwartiningsih menekankan pentingnya keteladanan dan praktik nyata. Toleransi tidak cukup disampaikan sebagai materi pembelajaran, tetapi harus dibentuk melalui lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman. Pengembangan kualitas sumber daya manusia, menurutnya, harus berjalan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan.
Talkshow Festival Toleransi tersebut menegaskan bahwa menjaga kerukunan bukan pekerjaan satu pihak dan tidak dapat diselesaikan melalui seremoni semata. Salatiga perlu memastikan nilai toleransi hadir dalam kebijakan, pendidikan, pelayanan publik, dan hubungan antarmasyarakat. Tantangan sesungguhnya bukan sekadar mempertahankan reputasi sebagai kota toleran, melainkan membuktikan bahwa keberagaman tetap terlindungi dan dihormati oleh setiap generasi.
#Simak berita-berita update CerminDemokrasi.com lainnya di ponselmu, dengan cara ikuti/klik link dibawah ini 👇:
1.) Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbBQrtFBqbr2Tw270h2v
2.) Halaman Facebook: https://www.facebook.com/share/18Amh9QUv4/
3.) Channel Youtube: https://www.youtube.com/@CerminDemokrasiOfficial
4.) Channel Instagram: https://www.instagram.com/cermindemokrasiofficial?igsh=ZzF6djc2YjU0a2k2
5.) Channel Tiktok: https://www.tiktok.com/@cermindemokrasiofficial?_r=1&_t=ZS-924Eyf2x8uz






