JAKARTA, CerminDemokrasi.com – Sebuah salib merah berukuran sekitar lima meter menarik perhatian dalam demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). Perwakilan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) membawa simbol tersebut sebagai bentuk solidaritas bagi masyarakat adat Papua.
Salib merah itu menggambarkan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah ulayat dan hutan adat. Aksi ini juga mengangkat pesan dari film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Melalui simbol tersebut, massa menyerukan penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua. Mereka menyoroti pembukaan tanah adat masyarakat Marind di Merauke untuk proyek lumbung pangan nasional.
Massa menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong. Masyarakat adat memiliki ikatan sejarah, budaya, dan spiritual dengan tanah leluhur mereka. Perubahan fungsi lahan dinilai dapat mengancam kehidupan serta identitas masyarakat setempat.
Pesan aksi itu juga menyoroti peran Gereja dalam memperjuangkan keadilan sosial. Mereka menilai Gereja tidak harus terlibat dalam politik praktis. Namun, Gereja tetap perlu bersuara ketika masyarakat kecil menghadapi ketidakadilan.
Mereka turut mengingatkan bahwa perlindungan masyarakat adat dan lingkungan merupakan bagian dari solidaritas kemanusiaan. Melalui salib merah di Jakarta, mereka ingin membawa persoalan tanah dan hutan Papua ke perhatian publik.






